Fatih Karim

Sosok yang satu ini dikenal sebagai seorang yang sederhana, tegas dan lugas dalam bicara. Selama puluhan tahun, dakwah yang ia sampaikan selalu dihiasi dengan senyum dan cara-cara yang santun.

Ustadz Fatih Karim bercerita bahwa dirinya mulai mengenal Islam secara intensif sejak tahun 1997 ketika kuliah di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung. “Di sana saya mulai ikut kajian-kajian di Masjid, waktu itu DKM Unpad. Dari sana kemudian itu bermula, saya mulai mengerti dan paham bahwa dahwah itu wajib, dakwah itu kebutuhan, maka saya mulai untuk berdakwah,” ujarnya.

CEO & Founder Cinta Quran ini menjelaskan setidaknya ada dua alasan yang membuat dirinya aktif dalam dunia dakwah. Pertama, ia menyadari bahwa hidup di dunia ini singkat. Setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Maka sebelum pulang itu, seseorang haruslah mempunyai bekal amal yang besar.

Bagi CEO Alanabi.id ini, dakwah sejatinya adalah mengembalikan fitrah manusia kepada Allah, atau kepada Islam. Menurutnya, kodrat manusia itu sering lupa bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah, baik rejeki, jodoh, ajal ataupun yang lainnya.

“Maka, mengingatkan orang agar ingat kembali kepada Allah, kemudian hidup dengan naungan Allah, hidup diatur Allah, itulah hakikat dakwah,” katanya pria kelahiran 30 Juli 1979 itu.

Ustadz Fatih juga menuturkan tantangan dakwah terbesar yang ia rasakan berasal dari eksternal. Menurutnya, tantangan tersebut adalah perang pemikiran dengan liberalisme, sekularisme, dan turunannya.

“Racun-racun pemikiran dari luar itu luar biasa, berat bagi kita. Karena ini menantang peran dakwah dan keilmuan kita. Jadi arahnya lebih eksternal bukan internal. Meski tantangan internal itu ada, tapi tantangannya adalah pemikiran-pemikiran kufur yang ada di luar, bagaimana kemudian kita bisa menunjukkan kebatilannya dan kita bisa membangun pemikiran Islam di atasnya,” jelasnya.

Sumber

Leave a Comment
Speaker Details