Insan Mokoginta

Pengalaman beragama setiap muslim selalu berbeda-beda, seperti yang dialami oleh mualaf bernama Insan Mokoginta. Bapak Moko ini sejak kecil terlahir dari keluarga muslim, tak lantas membuat Insan langsung memeluk Islam. Hal demikian lantaran kedua orangtua yang memberikan kebebasan beragama kepada anak-anaknya.

Pria kelahiran Kotamobagu Manado 8 September 1949 ini lantas memilih agama Katolik karena pengaruh lingkungan dan pendidikan di Sekolah. Menurut orangtuanya saat itu, bilamana anak-anaknya telah dewasa, mereka dipersilakan untuk memilih agama apa. “Nah pengaruh sekolah itulah membuat kami semua beragama Katolik,” katanya.

Pada 1980, saat Insan berusia 31 tahun, dia memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dengan dibimbing oleh Imam Masjid Al Muqarabin Muhammad Hafidz di Kelapa Dua Cimanggis Depok. “Syahadat itu aku ucapkan karena aku yakin memang harus masuk Islam bila ingin menjadi seorang pengikut Yesus sejati,” imbuhnya.

Setelah kembali memeluk Islam, Insan mulai terjun di dunia dakwah. Karir dakwahnya dimulai dari aktivitasnya menulis buku kristologi. Buku itu lalu diperbanyak dan disebarluaskan agar dibaca oleh umat. Dari menulis buku, Insan kemudian memberanikan diri untuk tampil di depan umum

Kesibukannya dalam menyebarkan ajaran Islam membuat bisnis yang telah ia rintis, kini diurus oleh isteri dan anaknya. “Konsekuensinya bisnis saya tidak terurus lagi dan saya serahkan kepada isteri dan anak-anak, karena waktu saya sudah tersita untuk dakwah,” ujar pemilik toko material bangunan ini.

Dakwah Insan pun merambah sampai ke luar negeri. Langkah nyata yang dilakukannya adalah dengan mendirikan perpustakaan Birrul Walidain di Hong Kong. Insan juga menyuplai buku-buku dan VCD Kristologi yang menjadi andalannya dalam dakwah Islam.

Leave a Comment
Speaker Details
  • Location
  • Address
    Tidak ada data, mohon hubungi admin untuk update
  • Phone
    Tidak ada data
  • Email
    Tidak ada data