Muhammad Jazir ASP

Tubuhnya yang tidak lagi muda memang membuatnya tidak selincah Jazir dulu, yang semangatnya membara ketika memberi khutbah. Apalagi, akhir tahun ini usianya sudah menginjak 57 tahun. Tapi, jangan dikira produksi gagasan-gagasan yang muncul dari kepalanya menurun. Tidak, Jazir masih seperti Ketua Takmir Masjid Jogokariyan 1999, yang berisikan ambisi dan penuh inovasi.

Ambisinya masih mampu ditularkan dalam kegiatan-kegiatan yang menuntun umat menuju kaffah. Inovasinya, terus ditebarkan dalam program-program yang memiliki tuju menyejahterakan masyarakat. Padahal, jelas tidak mudah mengubah masyarakat. Apalagi, mereka yang sempat lekat predikat abangan, mempraktikkan Islam tidak secara utuh, mengutamakan kultur-kultur sekalipun menyimpang.

Seperti niat awal pendirian mengembalikan nilai-nilai Islam, perubahan gaya hidup perlahan dilakukan. Masjid Jogokariyan, tidak sekadar jadi tempat melaksanakan shalat, tapi justru pusat sosialisasi masyarakat. Bagi Jazir, komitmen itu mampu terjaga jika masyarakat dapat selalu ditempatkan sebagai tujuan utama. Dari masyarakat, oleh masyarakat, dan bagi masyarakat itulah manfaat-manfaat masjid harus dirasakan.

Tidak cuma dikenal sebagai ikon Masjid Jogokariyan, pria kelahiran 28 Oktober 1962 di Yogyakarta itu memang menjadi otak penting lahirnya transformasi. Dari kepalanya, gagasan-gagasan inovatif bermunculan.

Uniknya, sosok yang gemar menggunakan pakaian-pakaian bernuansa Jawa itu kerap menekankan gagasan tidak cuma datang dari pikiran. Terlebih, manusia diciptakan Allah SWT sebagai mahluk sempurna.

Ada hati yang telah dititipkan Allah SWT untuk bisa merasa,” kata Jazir sambil membetulkan peci khas Jogokariyan, yang memiliki ciri buntut dua layaknya penutup kepala abdi-abdi dalem Kraton Yogyakarta.

Dari sana, kepekaan atas situasi sekitar muncul. Kepekaan itulah yang jadi penuntun Jazir memetakan kebutuhan masyarakat dan diubah jadi kewajiban Masjid Jogokariyan. Kewajiban sebagai pusat peradaban.

Masyarakat memang menjadi titik tuju utama atas apapun yang akan dilakukan Masjid Jogokariyan. Meminjam petuah Ki Hajar Dewantara, Masjid Jogokariyan dibuat mampu mengambil tiga peran pendidikan. ng ngarso sung tulodo atau di depan memberi contoh, ing madyo mangun karso atau di tengah memberi semangat dan tut wuri handayani atau di belakang memberi dorongan kepada masyarakat.

Sumber Republika

Leave a Comment
Speaker Details