Masjid Jogokariyan

Berawal dari sebuah langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta, Masjid Jogokariyan terus berusaha membangun Ummat dan Mensejahterakan Masyarakat.

Masjid Jogokariyan (bahasa Jawa: ꦩꦱ꧀ꦗꦶꦢ꧀​ꦗꦒꦏꦫꦶꦪꦤ꧀translit. Masjid Jagakariyan) adalah salah satu masjid bersejarah yang berada di Kampung Jogokariyan atau tepatnya di Jalan Jogokariyan, Mantrijeron, Yogyakarta. Lokasi masjid ini juga berdekatan dengan Pondok Pesantren Krapyak yang sama-sama memiliki nilai sejarah panjang, terutama jika dikaitkan dengan keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid Jogokariyan didirikan oleh Pengurus Muhammadiyah. Ranting Karangkajen sebagai media dakwah untuk memperkuat dan menginternalisasi nilai-nilai keislaman ke dalam diri penduduk di sekitar masjid. Benar saja, pada saat itu hampir seluruh penduduk Kampung Jogokaryan adalah kalangan “abangan” yang lebih mengutamakan kultur kejawen ketimbang kultur keislaman.

Gambaran Umum

Masjid Jogokariyan memiliki visi, yaitu “Terwujudnya masyarakat sejahtera lahir batin yang diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid”. Sementara itu, misi dari Masjid Jogokakariyan adalah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat; memakmurkan kegiatan ubudiyah di masjid; menjadikan masjid sebagai tempat rekreasi rohani jama’ah; menjadikan masjid tempat merujuk berbagai persoalan; dan menjadikan masjid sebagai pesantren dan kampus masyarakat.

Jangkauan syiar Masjid Jogokariyan mencakup empat RW (Rukun Warga) yaitu RW 9 dan 12 serta 18 RT (Rukun Tetangga) yaitu RT 30 s.d. 47 dengan estimasi jangkaun 3970 jiwa dan 887 kepala keluarga. Perlu digarisbawahi, 95% penduduk di Kampung Jogokariyan memeluk agama Islamdan sisanya beragama Kristen dan Katolik. Batas wilayah dakwah Masjid Jogokariyan di sebelah utara adalah Kampung Mantrijeron dan Kampung Jageran, sementara di sebelah selatan adalah Kampung Krapyak Wetan dan di sebelah timur adalah Jalan Parangtritis.

Keberadaan Masjid Jogokariyan selain untuk mensyiarkan nilai-nilai Islam juga berupaya untuk “menyatu” dengan kearifan lokal yang ada di masyarakat setempat. Hal itu tergambar dalam logo masjid yang memiliki tiga unsur bahasa, yaitu Arab, Indonesia, dan Jawa. Menurut penuturan para pendiri, Masjid Jogokariyan ingin membentuk karakter umat yang shalih sutuhnya dengan tidak tercerabut dari unsur-unsur budaya setempat.

Lebih jauh lagi, bangunan Masjid Jogokariyan didirikan di tanah seluas 1478 meter persegi yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama bangunan Masjid Jogokariyan memiliki luas 387 m2; lantai 2 memiliki luas 400 m2; dan lantai 3 memiliki luas 170 m2. Selain itu, bangunan Masjid Jogokariyan juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas, di antaranya adalah bangunan utama 3 lantai; ruang utama 1 buah; serambi 3 buah; ruang serbaguna 1 buah; ruang tidur/penginapan 3 buah; ruang etalase 1 buah; ruang kantor 1 buah; ruang gudang 3 buah; ruang poliklinik 1 buah; ruang perpustakaan 1 buah; garasi 1 buah; tempat Wudu 5 lokal; kamar mandi 30 buah; ruang dapur 1 buah; menara 1 buah; sound system 1 set; hall 1 buah; Islamic Center 1 buah; hotel kualitas bintang 4 sebanyak 11 kamar; secretariat 1 buah; CCTV 1 set (16 kamera); fingerprint 2 set; mobil operasional masjid 1 buah.

Sejarah

Masjid Jogokariyan awal mula dibangun pada tahun 1966. Pembangunan Masjid Jogokariyan tidak terlepas dari dinamika sosial yang terjadi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada waktu itu, Sultan Hamengkubuwono membuka Kampung Jogokariyan karena sesaknya ndalem Beteng Baluwerti di Keraton. Maka, bergodo-bergodo Prajurit Kesatuan Keraton dipindahkan ke selatan benteng, tepatnya di utara Panggung Krapyak atau Kandang Menjangan. Tempat itu kemudian dijadikan tempat tinggal para prajurit keraton yang sesuai dengan Toponemnya dinamakan “Kampung Jogokariyan”.

Dalam perkembangannya, Sultan Hamengkubuwono VII juga membuat kebijakan yang berhubungan dengan relokasi prajurit keraton. Bedanya, Sultan Hamengkubuwono VII memindahkan mereka ke Kampung Krapyak karena adanya penyempitan jumlah prajurit keraton yang semula 750 orang menjadi hanya 75 orang. Jumlah tersebut dipekerjakan keraton untuk kepentingan upacara saja, bukan lagi untuk perang. Para prajurit kemudian banyak yang kehilangan jabatan dan pekerjaan sebagai abdi dalem. Selama menjadi abdi dalem, mereka yang awalnya gemar berjudi dan mabuk-mabukan kini harus mengganti mata pencahariannya sebagai petani.

Di Kampung Jogokariyan, mereka juga diberikan sepetak tanah oleh keraton. Banyak di antara mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya itu hingga kemudian memutuskan untuk menjual sawah mereka kepada pengusaha batik dan tenun. Majunya usaha batik dan tenun di Kampung Jogokariyan adalah awal mula dari potret buram kehidupan para mantan abdi dalem keraton. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi buruh di pabrik-pabrik tenun dan batik tersebut. Para keturunan mereka pun demikian, banyak yang menjadi buruh di bidang industri itu. Mereka menjadi miskin di tanah mereka sendiri seiring semakin majunya usaha batik dan tenun milik para pendatang.

Bersamaan dengan fenomena tersebut, muncullah gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang salah satunya menjadikan Kampung Jogokariyan sebagai basis pergerakannya. Gerakan PKI disambut dengan sangat antusias oleh para mantan abdi dalem yang kebanyakan adalah petani dan buruh yang kehidupan ekonomi-nya jauh dari dikatakan baik.

Hingga pada tahun 1965, meletus gerakan G30S yang banyak menangkap serta memenjarakan warga-warga sipil yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Momentum tersebut adalah masa dimana Kampung Jogokariyan dikenal sebagai sarang Komunisme. Selain komunis, mereka juga dikenal sebagai penganut agama Islam abangan yang lebih banyak mempraktikan ajaran Islam kejawen. Hal itu merupakan pengaruh dari lingkungan keraton yang menjadi basis kehidupan mereka sebelum pindah ke Kampung Jogokariyan.

Dibangunnya Masjid Jogokariyan di tengah latar belakang penduduk yang demikian dinilai sebagai upaya untuk menanamkan kembali nilai-nilai Islam yang kaffah kepada penduduk di Kampung Jogokariyan. Sebelumnya, di kampung tersebut belum memiliki masjid. Segala aktivitas keagamaan dilakukan di sebuah langgar kecil berukuran 3 x 4 meter persegi yang berada di pojok kampung atau tepatnya terletak di RT 42 RW 11 (sekarang menjadi rumah keluarga Bapak Drs. Sugeng Dahlan). Akibatnya, ketika hari-hari istimewa bagi pemeluk agama Islam tiba, seperti bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, suasana di langgar dan di Kampung Jogokariyan sangat sepi. Dibangunnya Masjid Jogokariyan pada tahun 1966 bertujuan untuk menghidupkan kembali nuansa Islami di Kampung Jogokariyan.

Proses Pembangunan Masjid

Proses pembangunan Masjid Jogokariyan tidak terlepas dari kontribusi para pengrajin batik dan tenun yang ada di Kampung Jogokariyan. Mereka yang tergabung dalam kelompok Koperasi Batik “Karang Tunggal” dan Koperasi Tenun “Tri Jaya” di awal bulan Jui 1966 telah berhasil membeli tanah wakaf seluas 600 m2 yang menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Jogokariyan. Para pengusaha batik dan tenun itu sebagian besar adalah simpatisan partai politik MASYUMI dan pendukung kegiatan dakwah Muhammadiyah. Beberapa nama yang berjasa dalam mencetuskan gagasan pembangunan masjid adalah H. Jazuri yang juga seorang pengrajin batik dari Karangkajen yang memiliki rumah di Kampung Jogokariyan. Dalam sejarahnya, H. Jazuri mencetuskan gagasan pembangunan masjid tersebut ke beberapa tokoh masyarakat seperti Bapak Zarkoni, Bapak Abdulmanan, Bapak H. Ahmad Said, Bapak Hadits Hadi Sutarno, Kanjeng Ratu Tumenggung Widyodiningrat, Ibu Margono, dan lain-lain. Setelah terjadi kesepahaman antar-tokoh masyarakat tersebut, mereka kemudian mencari tanah wakaf seluas 600 m2 untuk didirikan masjid.

Pada waktu itu, para panitia pembangunan masjid berpikir bahwa masjid itu akan lebih baik apabila dibangun di tempat yang strategis, tepatnya di perempatan yang ada di tengah-tengah Kampung Jogokariyan. Namun demikian, tanah strategis itu ternyata dimiliki oleh Bapak Yudo Mardoyo yang memiliki ahli waris bernama Bapak Sukadis. Dalam waktu yang bersamaan, Bapak Sukadis hendak kembali ke Kampung Jogokariyan setelah pensiun menjadi pegawai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia di Temanggung. Setelah melalui beberapa kali diskusi, Bapak Sukadis bersedia untuk bertukar tanah dengan masjid. Rumahnya dibangun masjid, kemudian panitia harus membangunkan rumah permanen di tanah yang hendak ditukar.

Akhirnya, pada tanggal 20 September 1965, dilakukan peletakan batu pertama di tanah tersebut dengan luas bangunan masjid berukuran 9 x 9 m2 ditambah serambi 9 x 6 m2 sehingga memiliki luas total 15 x 9 m2 yang terdiri dari ruang utama dan serambi. Dalam perkembangaannya, pada bulan Agustus 1967, bersamaan dengan momentum merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, Masjid Jogokariyan diresmikan oleh Ketua PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Kota Yogyakarta.

Dari masa ke masa, ternyata jamaah Masjid Jogokariyan menjadi semakin banyak. Para pengurus masjid mencari cara agar infrastruktur masjid mampu memenuhi antusiasme penduduk yang ingin datang ke masjid. Akhirnya, di sebelah selatan masjid dibangunlah sebuah aula berukuran 19 x 6 m2 yang di tengah bangunan aula tersebut terdapat halaman kecil. Semakin lama, bangunan masjid tetap tidak mencukupi luapan jama’ah hingga dibangunlah serambi selatan dengan atap seng dan serambi utara dengan atap aluminum krei. Terlebih lagi, Masjid Jogokariyan ternyata tidak memiliki halaman, bahkan untuk meletakan alas kaki jamaah pun tidak ada.

Ta’mir kemudian memutuskan untuk membeli tanah milik Hj. Sukaminah Hadist Sutarno seluas 100 m2. Dengan demikian, luas tanah Masjid Jogokariyan menjadi 760 m2 hingga pada tahun 1978. Lebih lanjut lagi, pada tahun 2009, Ibu Hj, Sukaminah Hadits Hadi Sutarno juga menawarkan kembali agar tanah beliau di depan masjid dibeli oleh Masjid Jogokariyan. Begitu pula dengan Bapak Hery Wijayanto yang menawarkan tanah rumahnya untuk dibeli masjid. Dua bidang tanah tersebut dibeli dengan harga 485 juta yang kemudian didirikan Islamic Center Jogokariyan. Islamic Center tersebut terdiri dari tiga lantai dimana di lantai ke-3 terdapat 11 kamar penginapan di lantai ke-2 terdapat meeting room yang digunakan sebagai badan usaha masjid. Hal itu dilakukan oleh ta’mir dalam rangka menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai masjid yang mandiri secara finansial.

Asal-Usul Nama “Jogokariyan”

Nama “Masjid Jogokariyan” dipilih oleh para pendiri dan perintis dakwah karena beberapa alasann. Penelitan yang ada mengungkapkan bahwa, alasan-alasan pemilihan nama tersebut antara lain:

  • Berpegang pada Sunnah Rasulullah SAW, ketika memberi nama pada masjid, hal yang Beliau lakukan adalah membubuhkan nama kampung atau lokasi keberadaan masjid tersebut. Sebagai misal, Masjid Kuba di Madinah yang berada di Kampung Kuba. Demikian halnya dengan Masjid Bani Salamah yang berada di Kampung Bani Salamah. Bahkan, akibat adanya peralihan arah kiblat, masjid tersebut juga berganti nama menjadi Kampung Kimblatain
  • Para pendiri Masjid Jogokariyan berharap masyarakat lebih mudah menemukan lokasi atau keberadaan masjid itu. Pemberian nama “Jogokariyan” sebagaimana nama kampungnya secara otomatis akan langsung mengasosiasikan masjid tersebut dengan wilayah teritorialnya. Dengan demikian, masyarakat akan lebih mudah untuk menemukan lokasi dakwah Masjid Jogokariyan.
  • Pemilihan nama “Jogokariyan” diyakini akan mampu merekatkan dan mempersatukan masyarakat Jogokariyan yang sebelumnya terpecah belah karena perbedaan aliran dan gerakan politik. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, masyarakat Jogokariyan pernah terlibat dalam gejolak politik di masa Demokrasi liberal yang puncaknya adalah tragedi 30 September 1965. Pemberian nama “Jogokariyan” dimaksudkan untuk menghancurkan perbedaan pandangan tersebut dan menyatukan penduduk berbasis kultur kampung.
Photos
Leave a Comment
Venue Details
  • Category
  • Address
    Jogokariyan Mosque Jl. Jogokaryan No.36, Mantrijeron, Kec. Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143
  • Phone
    0812-2287-3636
  • Fax
    0274 419271
Working Hours
  • Weekdays
    24 hours
  • Saturday
    24 hours
  • Sunday
    24 hours
Events of the Venue
You might also love these events.
November 11, 2019
Jiwa kepahlawanan bangsa Indonesia harus terus kita kobarkan. Pangeran Diponegoro adalah salah satu sosok yang rela meninggalkan segala kemewahan dan kemegahan untuk berjuang karena Allah melawan angkara murka dan penjajahan. Di hari miladnya, sekaligus memperingati hari pahlawan yang juga bertepatan...